Album Grey Dari Pure Saturday: Going Prog

Selamat datang! Daftar | Login

Artikel Musik

Album Grey Dari Pure Saturday: Going Prog

May 25th, 2012 by Wahyu Nugroho
Album Grey Dari Pure Saturday: Going Prog

Dirilisnya album terbaru dan kesuksesan konser tunggal yang digelar Selasa [15/05] lalu di Gedung Kesenian Jakarta menandai episode baru dari Pure Saturday. Sejak muncul di skena musik Indonesia pertengahan 90-an sampai hari ini, mereka dikenal selalu memberikan sumbangsih kepada wajah musik tanah air dengan referensi-referensi ‘alternatif’ di tengah warna musik dominan yang telah ada.

Muncul di tahun 1996 dengan debut s/t, dilanjutkan dengan album kedua, Utopia [1999] dan Elora [2005], band asal Bandung ini sukses menancapkan publik musik tanah air akan warna warni musik dari Inggris dan sekitarnya, mulai dari The Cure, Teenage Fanclub dan The La’s, Ride dan lainnya.

Dan kini, lewat Grey [2012], album baru mereka, perjalanan para personilnya telah sampai kepada sebuah titik baru, sebuah titik yang mereka beri tajuk progresif, istilah yang mungkin musisinya sendiri enggan untuk disematkan. 

Tujuh tahun sejak album studio ketiga Elora, Pure Saturday seakan sadar jika dirinya tak ingin terjebak dalam pola yang sama. Ini lantas tercermin dengan pemakaian hook dan melodi, hadirnya synthesizer juga pola aransemen yang berubah-ubah dari awal sampai akhir lagu dari semua komposisi di album ini. Semua memungkinkan untuk menyebutkan bahwa asimilasi ruang-ruang baru dari apa yang pernah dibuat Marilion, Rush, Genesis, Electric Light Orchestra atau Emerson Lake And Palmer kini telah tersuntik masuk dalam nadi musik Pure Saturday. Nomor-nomor seperti “Horsemen”, “Starlight” , “The Air, Th Empty Sky”, dan beberapa nomor lainnya. Hanya “Lighthouse” mungkin yang masih menyisakan romantisme Pure Saturday era lawas, meski telah dipoles sedemikian rupa.

Catatan tersendiri untuk “Albatross”, sebuah komposisi yang tidak hanya berdurasi panjang, bahkan terdiri dari 3 bagian adalah hal baru. Hembusan organ hammond, tiupan flute mengalun halus dalam perpindahan tema-tema yang ada. Komposisi ini ibarat ucapan selamat tinggal pada straight forward pop, pola lama mereka, dan sapaan manis selamat datang kepada kaidah-kaidah baru di tubuh musik Pure Saturday.

Khusus bagi Satria NB, ekspresi personalnya sebagai vokalis di album ini mulai terbentuk. Beberapa eksplorasi ia lakukan: Bermain di nada rendah, humming bahkan sampai berteriak, terpapar jelas di album ini. Beda rasanya ketika ia nampak sangat ‘berhati-hati’ di album Elora, album debutnya sebagai pengganti Suar, vokalis pertama Pure Saturday. 

Mungkin sekilas, bagi pendengar terutama fans Pure Saturday yang menginginkan nuansa nostalgia, mendengarkan Grey akan membuat dahi mereka terenyut. Ini normal, kita melihat ekspresi yang kurang lebih sama ketika Utopia dirilis, dimana saat itu mereka hadir dengan lanskap musik yang lebih berisik, sehingga vokal Suar saat itu tidak bisa tertangkap jelas.

Butuh berulang kali untuk bisa menikmati lagu ini. Bukan semata-mata karena ini album progresif, namun karena Grey punya daya magisnya sendiri yang tidak hanya bisa langsung dinikmati sekali dengar. 

 

 

 

 

TAG ARTIKEL : Pure Saturday, Album Grey, Review

WRITE COMMENT :

Security Code
500 characters remaining
© Copyright Dotuku.com
All Rights Reserve by Dotuku Musik Indonesia
cs@dotuku.com