Industri musik Indonesia saat ini nampaknya perlu suntikan semangat yang lebih besar sehingga mereka mampu memproduksi lagu-lagu khusus untuk anak. Kurangnya lagu anak menjadi keprihatinan banyak pihak dan cukup mendapat sorotan. Mungkin kita masih mengingat lagu anak yang cukup populer di masa kita kecil seperti “lumba-lumba”, “abang tukang bakso” dan masih banyak lagi. Namun di masa sekarang kurangnya lagu anak membuat anak-anak lebih fasih menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang liriknya kurang pantas untuk mereka.
Untuk lagu anak-anak, kita mengenal banyak lagu-lagu “abadi” dalam arti lagu-lagu tersebut sangat populer dari dulu hingga sekarang dan manjadi lagu wajib di lembaga pendidikan anak usia dini seperti TK dan Play Group. Ada lagu Pelangi, Balonku ada lima, Naik Kereta api, Bangun tidur dan masih banyak lagi. Namun saat anak-anak sudah mulai masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, persediaan lagu anak sudah sangat berkurang.
Keprihatinan banyak pihak terhadap kurangnya lagu anak perlu mendapat perhatian lebih dari pihak-pihak terkait terutama industri musik itu sendiri untuk lebih mempopulerkan dan mengangkat karya-karya pribadi dari pihak lain untuk membuat musik dan lagu anak menjadi lebih terangkat lagi. Hal ini melihat kebanyakan pihak yang berjuang untuk mengangkat lagu anak lebih banyak berjuang sendiri dengan alat seadanya sehingga hasil tersebut kurang maksimal.